Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketofastosis, Bukan Sekadar Diet Biasa dan Wajib Dicoba!

Qsehat.com - Diet ketofastosis merupakan salah satu diet populer. Memiliki badan ideal memang menjadi impian setiap wanita. Termasuk dengan menempuh berbagai cara hingga melakukan diet tanpa riset, yang berujung dengan kesengsaraan. Diet bukan hanya sekedar pola makan, tetapi gaya hidup. Contohnya, seperti yang diterapkan pada diet ketofastosis.

Tak sedikit orang yang beranggapan diet ini sama dengan diet ketogenik yang sempat booming beberapa waktu lalu. Memang sedikit mirip, tetapi poin pelaksanaannya berbeda. Penasaran dengan diet sehat ketofastosis? Simak ulasannya di bawah ini!
ketofastosis
diet ketofastosis
 Mengenal Fase dalam Diet Ketofastosis

Ketofastosis berasal dari gabungan ketogenik dan fastosis. Yaitu pola hidup yang membatasi asupan karbohidrat, dan menggantikannya dengan makanan tinggi lemak. Tujuan dari diet ini adalah mengembalikan fungsi tubuh dalam keadaan seperti semula, atau biasa disebut dengan ketosis.

Ketosis merupakan proses metabolisme tubuh dengan membakar cadangan lemak untuk menghasilkan energi. Proses ini sangat normal, dan setiap orang pasti pernah melaluinya, terutama saat sedang berpuasa. Agar diet ketofastosis berlangsung dengan sukses, pastikan menyelesaikan fase ini secara berurutan :

1. Fase Induksi atau Pemicuan

Saat mulai kekurangan karbohidrat, tubuh akan memicu diri untuk beradaptasi. Fase induksi dilakukan dalam rentang 3 hari sampai dengan 2 minggu, dengan menekan konsumsi karbohidrat hingga 10 gram/hari. Puasa ini dilakukan selama 16 hingga 18 jam per hari.

Untuk menggantikan karbohidrat, perbanyak konsumsi makanan berlemak, seperti panduan yang ada pada menu diet keto. Beberapa makanan yang diperbolehkan, yaitu daging, ayam, telur, ikan, seafood, santan, minyak zaitun, dan lain-lain. Dalam fase ini konsumsi sayur dan buah masih harus dibatasi, kalau bisa justru dihindari.

2. Fase Konsolidasi

Fase kedua dari diet ketofastosis adalah fase konsolidasi. Fase ini dilakukan dalam rentang waktu 1 minggu sampai dengan 1 bulan. Dan durasi puasa bisa ditingkatkan menjadi 18 hingga 20 jam per hari. Namun, konsumsi karbohidrat bisa ditambah dengan maksimal asupan 15 gram/hari.

Menu sayur sudah diperbolehkan pada fase ini (buah belum), tetapi pilih sayuran yang tinggi serat. Seperti sawi, bayam, kangkung, kol, brokoli, dan lain-lain. Namun, jika saat mengonsumsi sayur kadar gula dalam darah meningkat (≥90 mg/dl), maka harus diturunkan kembali ke fase induksi.

3. Fase Maintenance atau Pemeliharaan

Fase terakhir dari diet ini adalah fase maintenance atau pemeliharaan. Seperti yang sudah disebutkan di atas, ketofastosis bukan sekadar diet biasa, melainkan gaya hidup. Orang yang sudah berada di dalam fase ini, berarti sudah siap mengubah pola makannya.

Karena tubuh sudah terbiasa dengan bahan bakar lemak, asupan karbohidrat pun bisa ditingkatkan
menjadi 20 gram per hari. Buah-buahan juga sudah boleh dikonsumsi, tetapi utamakan buah yang rendah karbo dan tinggi serat. Seperti keluarga berry, alpukat, zaitun, belimbing, dan lain-lain.

Asupan lemak adalah kunci keberhasilan dari diet ketofastosis ini. Namun, bukan berarti boleh mengonsumsi makanan non-karbo secara sembarangan, terutama makanan junk food. Dan jangan lupa untuk memperhatikan nutrisi lain yang diperlukan oleh tubuh, seperti air dan mineral.

Pastikan tetap mengonsumsi air putih sebanyak 8 gelas setiap hari. Hindari minuman berperasa, karena dapat mengganggu proses ketosis. Untuk kebutuhan mineral, bisa dipenuhi melalui penggunaan garam pada masakan atau kaldu dari ikan dan daging.

Agar diet ketofastosis semakin maksimal, seimbangkan diri dengan istirahat dan olahraga ringan.
Namun, jika memiliki penyakit serius (seperti diabetes dan jantung), konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. Jangan memaksakan diri terlalu keras. Karena kecocokan diet setiap orang bisa saja berbeda.

Post a comment for "Ketofastosis, Bukan Sekadar Diet Biasa dan Wajib Dicoba!"